Sabtu, 25 Juli 2009

M. Quraish Shihab : HAKEKAT MAUT (Perenungan Musibah Danau Gintung)

Maut adalah sesuatu yang amat dikenal, ia terlihat dan terdengar sehari-hari bahkan ditayangkan setiap saat. Namun sosoknya, serta apa yang dilihat oleh yang mati bahkan kehadirannya, adalah rahasia yang tidak dapat terungkap kecuali bagi hamba-hamba pilihan Allah.

Aku tidak melihat sesuatu yang haq lagi pasti terjadi tetapi di anggap batil tidak bakal terjadi, seperti halnya maut. Dan tidak juga melihat sesuatu yang batil dan pasti lenyap tetapi dianggap haq dan langgeng seperti halnya dunia.” (Sayyidina Ali kw).

Kematian seakan-akan hanya ditetapkan atas selain kita. Kita bagaikan tidak mendengar adanya generasi yang lalu, atau tidak melihat apa yang terjadi bagi generasi kini. Sesungguhnya masa yang dikerat oleh detik pastilah berakhir betapapun panjangnya.

Maut adalah pemutus segala kelezatan duniawi, dia adalah pemisah sahabat dan pengeruh kenyamanan hidup orang-orang yang lalai. Ia adalah keniscayaan. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,” begitu firman Allah dalam QS. an-Nisâ’ 4:78. Ia akan datang kepada kita, kendati kita berusaha lari menghindar darinya: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. al-Jumu‘ah 62:8).

Maut adalah bayang-bayang yang muncul dalam benak manusia yang mengancam hidupnya, hidup kekasih, anak, dan sanak keluarganya.

Maut adalah sesuatu yang amat dikenal, ia terlihat dan terdengar sehari-hari bahkan ditayangkan setiap saat. Namun sosoknya, serta apa yang dilihat oleh yang mati bahkan kehadirannya, adalah rahasia yang tidak dapat terungkap kecuali bagi hamba-hamba pilihan Allah. “Tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Luqmân [31]: 34).

Andaikata Anda dapat melihat apa yang dilihat oleh yang telah direnggut nyawanya oleh maut, pasti sikap dan keadaan Anda bukan seperti sekarang. Tapi yakinlah bahwa dalam waktu dekat – karena setiap yang akan datang pasti tak lama lagi – tabir maut akan dicabik-cabik sehingga Anda pun melihatnya. “Sebenarnya – kata Sayyidina Ali kw. – kepada Anda telah diperlihatkan kalau memang Anda mau melihat, kepada Anda telah diperdengarkan kalau memang Anda mau mendengar,… Anda pun telah diberi petunjuk, hanya Anda enggan memanfaatkan petunjuk itu.”

Benar kita lengah, karena “Sungguh seandainya kamu mengetahui dengan ‘ilmul yaqîn,” yakni pengetahuan yang mantap – pasti kamu berhenti lengah atau bersaing secara tidak sehat. Demi Allah jika kamu demikian itu, pasti kamu akan melihat neraka jahim dengan mata hatimu, lalu di hari Kemudian kamu akan melihatnya dengan mata kepalamu (baca QS. at-Takâtsur 102:5-6).

Keyakinan tentang kematian yang meresap di lubuk hati yang terdalam, serta gambarannya yang tampil dari saat ke saat ke pelupuk mata, itulah salah satu jaminan kewaspadaan serta peningkatan amal-amal kebajikan tanpa pamrih. Itulah yang mendorong seseorang mempersiapkan bekal untuk hidup sesudah mati. Bahkan seperti tulis Will Durant: “Maut adalah sumber semua agama, boleh jadi kalau maut tak ada maka kepercayaan kepada Tuhan pun tidak akan ada.” Karena itu pula Rasul saw. menganjurkan untuk selalu mengingat maut dan menganjurkan untuk menziarahi pekuburan. Bukan untuk meminta, tetapi guna mengingatkan bahwa suatu ketika peziarah pun akan berada di tempat yang sama dan semoga diziarahi pula.

Suatu ketika ada seseorang melihat jenazah sedang diusung. Dia bertanya: “Siapa yang diusung ini?” Seorang bijaksana menjawab: “Dia adalah kita. Dia adalah saya dan Anda!” Memang suatu ketika, kita pun akan mengalaminya. Demikian wa Allâh a‘lam.

Sumber :
Disunting dari buku "Menjemput Maut" karya M. Quraish Shihab, Jakarta: Lentera Hati, 2005.
-----------------------------------------------

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr.wb
IpeHa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar