Allah SWT berfirman Dalam Al-Qur’an : " Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" (Al-Jumuah : 62 : 12)
Diriwiyatkan dari Abu Hurairah ra: Nabi saw bersabda: "Sebaik-baik hari dalam peredaran matahari adalah hari Jum'at. Pada hari Jum'at itulah Adam diciptakan, pada hari itulah Adam dimasukkan ke surga, pada hari itu pula Adam dikeluarkan dari surga, dan hari kiamat akan terjadi pada hari Jum'at." (3:6-Shahih Muslim)
Dalam hadist lainnya Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya pada hari Jum'at ada satu saat, apabila seorang muslim melakukan shalat lalu memohon suatu kebaikan maka Allah akan memenuhinya." Kapan satu saat itu? Diriwiyatkan Abu Musa Al Asya'ari ra, Rasulullah bersabda: "....saat itu adalah antara duduknya imam dan selesai shalat Jum'at."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Khutbah Jum'at Masjidil Haram : Bahaya Menggunjing (Ghibah)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
إِنّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ الله فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أََنْ لاَ إِلهَ إِلاّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullahu,
Kami berwasiat kepada diri saya sendiri, dan juga kepada kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Dan barangsiapa yang takut kepada manusia, maka sesungguhnya, manusia tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita juga harus menyadari, bahwa tidak ada yang bisa mendapatkan rahmat kecuali orang-orang yang berada di atas ketakwaan.
Nasihat untuk bertakwa ini sangatlah banyak. Akan tetapi, betapa disesalkan, karena yang melaksanakannya ternyata sangat sedikit. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.
Jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah.
Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajak bicara akal, hati, perasaan dan jiwa, akhlak dan pendidikan. Agama yang mulia ini menggariskan adanya peraturan-peraturan agar seorang muslim dapat memiliki hati yang selamat, perasaan yang bersih, menjaga kehormatan lisan, dan menjaga rahasia pribadinya, serta dapat berakhlak mulia terhadap Rabb-nya, dirinya dan seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Hari orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. (QS. Al-Hujurat: 12).
Pesan Al-Qur’an ini, merupakan jawaban atas fenomena yang kita lihat saat ini. Yakni, agar kita terhindar dari perbuatan ghibah (menggunjing), mencari-cari kesalahan orang lain. Karena menggunjing ini dapat menyebabkan terlanggarnya kehormatan, keselamatan hati dan ketenangan di masyarakat. Perbuatan menggunjing, merupakan salah satu dosa besar yang membinasakan, merusak agama para pelakunya, baik sebagai pelaku ataupun orang yang rela ketika mendengarkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an:
Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagiaan yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudarannya yang sudah mat? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat : 12)
Kaum muslimin, rahimani wa rahimakumullah.
Menggunjing orang lain, tidak lepas dari salah satu dari tiga istilah, yang semuanya disebutkan al Qur’an, yaitu : ghibah, ifku dan buhtan.
Apabila yang Anda sebutkan tentang saudara Anda itu ada padanya, maka inilah ghibah. Apabila Anda menyampaikan semua yang Anda dengar, maka ini adalah ifku. Dan apabila yang Anda sebutkan tidak ada pada diri saudaramu, maka ini adalah buhtan.
Ghibah (menggunjing) adalah, setiap yang dapat dipahami dengan maksud penghinaan, baik berupa perkataan, isyarat atau tulisan. Ghibah ini, juga bisa berupa penghinaan seseorang tentang agama, kondisi fisik, akhlak, harta dan keturunannya. Barangsiapa yang mencela ciptaan Allah, berarti ia telah mencela penciptanya.
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah menyeru pelaku perbuatan ini dengan sabdanya:
يَا مََعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْْتَابُوا الْمُسْلِمِْينَ وَلاَ تَتّبِعُوا عَوْرَاتَهُمْ فَإِنّهُ مَنْ اتّبَعَ عَوْرَاتَهُمْ يَتّبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتّبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan itu belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah (menggunjing) kaum Muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, (maka Allah akan mencari-cari aibnya, niscaya Allah akan membeberkan aibnya, meskipun dia di dalam rumahnya.
Tentang bahaya menggunjing ini, al Hasan berkata: “Ghibah, demi Allah, lebih cepat merusakkan agama seseoranga daripada ulat yang memakan tubuh mayit”.
Maka sungguh aneh, jika ada orang yang mengaku sebagai ahlul haq dan ahlul iman, ternyata ia melakukan perbuatan ghibah (menggunjing), sedangkan dia mengetahui akibat buruk perbuatan tersebut. Firman Allah Ta’ala mengingatkan:
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? (QS. Al-hujurat: 12).
Jama’ah shalat jum’at rahimani wa rahimakumullah.
Seburuk-buruk ghibah, yaitu menggunjing para pemimpin, para ulama, orang-orang berkedudukan, orang-orang shalihm dan orang yang mengajak berbuat adil. Pelaku ghibah ini telah mencabik-cabik kehormatan orang-orang yang terpandang yang memiliki kedudukan. Pelaku ghibah ini juga merendahkan kedudukan mereka, menghilangkan kewibawaan mereka, menghilangkan kepercayaan terhadap mereka, mencela perbuatan dan usaha mereka, dan meragukan kemampuan mereka.
Bayangkan, tidak disebut orang yang mulia di hadapannya, kecuali direndahkannya. Tidaklah muncul seorang yang mulia, kecuali dicelanya. Tidak pula orang shalih, kecuali dia akan menuduhnya. Pelaku ghibah ini, senang menuduh orang-orang terpercaya, menggunjing orang-orang shalih. Pelaku ghibah menanamkan permusuhan dan membingungkan orang-orang kebanyakan, memutuskan silaturrahmi dan memecah persatuan.
Allahu Akbar! Apakah seorang muslim layak bersikap demikian kepada saudaranya?
Wahai pelaku ghibah! Setiap orang pasti dicintai dan dibenci, diridhai dan dimarahi, disukai dan dimusuhi.
Orang yang berakal, dalam mencintai kekasihnya, ia tidak akan berbuat secara berlebihan; sebab mungkin suatu hari orang yang dikasihinya tersebut akan dibencinya. Sebaliknya, manakala seorang muslim harus membenci, maka dia pun bersikap sewajarnya; sebab, mungkin suatu hari orang yang dibencinya aka menjadi kekasihnya. Oleh karena itu, jadilah orang yang selalu menegakkan kebenaran dan bersikap adil. Jangan sampai ketidak-sukaan membuatmu bersikap zhalim. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.(QS. Al Maidah : 8).
Wahai saudara-saudaraku seiman, jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah.
Jika dikatakan keapda Anda : “Fulan telah menggunjingmu, sampai kami merasa kasihan kepadamu “. Maka jawablah dengan perkataan : “Seharusnya, dialah yang patut engkau kasihan”.
Bertakwalah kita kepada Allah.Sungguh beruntung orang yang bisa menahan diri, tidak berlebihan dalam berbicara. Sungguh beruntung orang yang bisa menguasai lisannya. Sungguh beruntung orang yang terhindar dari menggunjing orang lain, karena ia mengetahui yang ada pada dirinya. Sungguh beruntung orang yang berpegang dengan petunjuk al Qur’an, kemudian menghadap Allah dengan hati yang kusyu’, lisan yang jujur, dan ikhlas mencintai saudaranya.
Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hasyr: 10).
KHUTBAH KEDUA
اََْلْحَمْدُ لله ذِي اْلعَرْشِ الْمَجِيْدِ، الَفَعّالُ لِمَا يُرِيْدُ، أَحَاطَ بِكُلّ شَيْئٍ عِلْمًا، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْئٍ شَهِيْدٌ، وَمَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، هُوَ أَقْرَبُ إِلى عَبْدِهِ مِنْ حَبْلِ اْلوَرِيْدِ. وَأَشْهَدُ أَنّ سَيّدَ نَا وَنَبَيّنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَاشِرُ أَعْلاَمِ التّوْحَيْدِ، صَلّى الله وَسَلّمَ وَبَارَِكَ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مِنْ صَالِحِ اْلعَبِيْدِ، وَسَلّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمّا بَعْدُ:
Jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah.
Kami mengingatkan kembali, hendaklah kita jauhi perbuatan ghibah atau menggunjing orang lain. Ketahuilah, orang yang mendengarkan ghibah, ia mendapatkan dosa yang sama seperti pelakunya. Sehingga orang yang mendengarkan ghibah tidak selamat dari dosa, kecuali jika ia mengingkari dengan lisannya, atau dengan hatinya. Apabila bisa, hendaklah ia tinggalkan majelis atau tempat tersebut, atau memutusnya dengan mengalihkan kepada pembicaraan yang lain. Karena, orang yang diam ketika mendengar ghibah, maka ia termasuk bergabung dengan pelakunya. Ibnu Mubarak mengingatkan: “Pergilah dari orang yang menggunjing, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa”.
Jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah.
Setiap orang memiliki cacat dan aib, kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kita jangan merasa mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Daripada mengurusi aib orang lain, mengapa kita tidak menyibukkan diri dengan aibsendiri? Jagalah hak dan kehormatan saudaramu! Dalam sebuah hadits dinyatakan :
Barangsiapa yang membela daging (kehormatan) saudaranya dari ghibah, maka menjadi hak Allah untuk membebaskannya dari api Neraka.
Barangsiapa yang berkata tentang seorang mu’min yang tidak ada padanya, (maka) Allah akan menempatkannya pada lumpur ahli Neraka, sampai dia keluar dari apa yang dia ucapkan.
Barangsiapa berbuat kezhaliman terhadap saudaranya (orang lain), hendaklah dia meminta maaf atas kezhalimannya. Karena (pada hari Kiamat), di sana tidak ada dinar (dan) tidak pula dirham sebagai penebusnya, sebelum diambil kebaikan dari dirinya untuk saudaranya tersebut. Apabila dia tidak memiliki kebaikan, maka diambillah kejelekan saudaranya tersebut dan dilimpahkan kepadanya.
Diangkat dari Khutbah Jum’at Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid, di Masjid al Haram, Makkah al Mukarramah.
--------------------------------------------------------------------------------------
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana
Semoga bermanfaat
Billahit taufiq wal hidayah
Wassalamualaikum wr.wb
IpeHa
E-MAIL : imamph@ptppa.com
"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan AKHLAK, SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"
Sabtu, 25 Juli 2009
Memaknai "Ritualisme"
Ibrahim berasal dari Australia. Ia berganti nama, tempat tinggal, dan agama. Ia memilih tinggal di daerah Bandung Utara. Para tetangganya, yang rumah-rumahnya berjejer di pinggir jalan besar, berasal dari kelompok sosial ekonomi tinggi. Hampir semuanya muslim dan sudah Haji. Sebagian di antara mereka sudah umrah berkali-kali. Di belakang rumah gedongan itu, ada perkampungan kumuh. Di situ, ada seorang janda yang rumahnya yang kecil dipergunakan untuk pengajian anak-anak kampung yang tidak mampu. Setiap usai shalat Magrib, anak-anak tidak mampu itu mengaji dengan memperebutkan Alqur’an lama yang jilidnya sudah robek.
Ibrahim terharu menyaksikan mereka. Ia berusaha membantu mereka dengan menyediakan fasilitas belajar yang lebih baik. Ia bertanya kepada saya, "Mengapa ratusan ribu orang Indonesia pergi melakukan ibadah haji, menghabiskan miliaran rupiah, tetapi tidak memperhatikan pendidikan anak-anak yang tidak mampu? Saya bertekad tidak akan naik haji, sebelum anak-anak dikampung itu mendapat pendidikan yang layak."
Ibrahim belum lama masuk Islam. Ia bingung mengapa miliaran uang dibuang hanya untuk sebuah upacara ibadah. Saya bingung juga untuk menjelaskan bahwa haji adalah rukun Islam yang kelima. Haji jelas termaktub dalam Alqur’an dan sunnah, sedangkan membantu pendidikan tidak disebutkan di dalam keduanya dengan tegas.
“Tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga”, begitu hadist Nabi SAW. Apa pahala yang kita peroleh untuk membiayai pendidikan? Bila orang yang mampu tidak mau naik haji, ia akan mati sebagai Nasrani atau Yahudi.
Namun apabila orang kaya mengabaikan pendidikan orang miskin di sekitarnya, ia akan mati biasa saja. Bila orang meneteskan air mata di ‘Arafah, Tuhan akan mengampuni seluruh dosanya. Bila anda meneteskan air mata di gubuk orang miskin, anda hanya akan dianggap orang cengeng saja.
Saya ingin menjelaskan semuanya kepada Ibrahim. Tetapi, saya segera sadar: semua argumentasi itu lahir karena saya rasa ia menyerang cara beragama saya selama ini. Ia menghujat pemaknaan saya terhadap syariat Islam. Ia bahkan memukul hati nurani saya. Jauh didalam lubuk hati, saya mulai bertanya-tanya juga. Layakkah kita menghabiskan dana begitu besar untuk kepuasan spiritual yang sifatnya individu?
Tetapi, bila kita meninggalkan ibadah haji, tidakkah kita mengabaikan salah satu tonggak penting ajaran Islam? Jawaban yang paling baik tentu saja haji dan sekaligus menolong fakir miskin. Yang begini ini lebih mudah diomongkan daripada dilakukan. Kenyataannya, karena dana terbatas, ktia memilih salah satu. Yang kita pilih, tentu saja haji.
Mengapa?
Argumentasi yang sama berulang. Haji jelas perintah yang termaktub dalam nash. Apakah membantu pendidikan tidak ada dalam nash? Mungkinkah Allah SWT mengatur kaki mana yang pertama masuk ke toilet mengabaikan persoalan pendidikan masyarakat? Soal "kaki mana yang dipilih" hampir tidak mempengaruhi kejayaan umat Islam. Kepedulian tentang pendidikan jelas menentukan masa depan umat.
Saya terkejut. Saya telah jatuh pada ‘ritualisme’. Ada dua ciri pokok ritualisme.
Pertama, keterikatan pada makna tersurat dari teks-teks keagamaan. Bila tidak tercantum tegas dalam nash, kita mengabaikannya.
Kedua, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan dengan setia, tetapi kita lupa pada tujuan ritus-ritus itu. Kita sibuk memperhatikan letak tangan dalam berdiri saat shalat, namun lupa akan implikasi shalat kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita hapalkan betul ucapan takbir, tetapi mengabaikan esensi takbir, yaitu mengecilkan diri kita dan hanya membesarkan Tuhan semata.
Keduanya bisa saling berkaitan. Kerena kita memusatkan perhatian hanya pada bunyi teks, kita melupakan konteks. Karena kita tertarik hanya pada segi-segi ritual, kita mengabaikan teks yang merujuk pada hal-hal yang esensial. Kita hapal betul ucapan Rasulullah SAW. Bahwa haji mabrur tidak mempunyai balasan kecuali surga. Kita abaikan penjelasan Nabi sesudah itu. Ketika Nabi saw ditanya tentang tanda-tanda haji mabrur, beliau berkata, "Berbicara yang bagus dan memberikan makanan untuk orang miskin."
Ketika berbagai cara haji disampaikan kepadanya, Nabi saw. Bersabda,"Boleh, tidak apa-apa." Beliau tidak mempersoalkan ritus-ritus itu. Ketika para sahabat memperselisihkan prosedur haji, ayat Alqur’an turun::”…barangsiapa yang menetapkan niat dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan haji. (QS 2: 197).
Jangan sekali-kali diartikan bahwa ritus-ritus itu tidak penting. Ia tetap penting dan tetap harus dilakukan. Ritualme keliru karena berhenti pada ritus. Pada ritualisme, agama tampak hanya sebagai serangkaian upacara formal yang kering dan tidak bermakna.
Berkenaan dengan ritualisme inilah Rasulullah saw. Bersabda, "Akan datang kepada manusia, satu zaman, ketika Tuhan-tuhan mereka adalah perut, kiblat mereka seks, agama mereka uang, kemuliaan mereka kekayaan. Tidak tersisa dari iman, kecuali namanya,; tak tersisa dari Islam, kecuali upacaranya; tak tersisa dari Alqur’an, kecuali pelajarannya. Mesjid-mesjid mereka ramai, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Merkea tidak mengenal ulama, kecuali pakaian keulamaannya yang bagus. Mereka tidak mengenal Alqur’an, kecuali dari suara bacaannya yang bagus. Mereka duduk rapat di masjid, tetapi zikirnya dunia dan kecintaannya dunia." (kitab Jami’k al-Akbar).
Ibrahim benar ketika ia mengkritik ritualisme pada kebanyakan kita. Tetapi, ia keliru ketika bertekad untuk tidak naik haji karena melihat orang yang mengabaikan pendidikan. Ia bergabung dengan sebagian orang yang meloncat kepada makna yang paling dalam dengan meninggalkan ritus-ritus lahirnya: mereka mengatakan bahwa ritus-ritus itu hanya wahana saja untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi. Ketika mereka menyatakan tidak perlu wahana lagi, mereka sudah mengklaim dirinya sebagai orang suci. Klaim itu, dalam tasawuf disebut sebagai ‘ujb (merasa kagum dengan dirinya). Iblis jatuh karena itu.
Ritualisme sama ekstremnya dengan substansialisme. Eksoterisme sama satu sisinya dengan esoterisme. Sebagiamana Allah (Dialah Yang Lahir dan Yang Batin – QS 57: 3), seorang muslim menjalankan dimensi keberagamaannya yang lahir dan yang batin sekaligus. Wallahualam bissawab
Dikutip tanpa izin dari tulisan Ustadz KH Jalaluddin Rakhmat, “Reformasi Sufistik”, Oktober 1998
Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono (IPH)
Ibrahim terharu menyaksikan mereka. Ia berusaha membantu mereka dengan menyediakan fasilitas belajar yang lebih baik. Ia bertanya kepada saya, "Mengapa ratusan ribu orang Indonesia pergi melakukan ibadah haji, menghabiskan miliaran rupiah, tetapi tidak memperhatikan pendidikan anak-anak yang tidak mampu? Saya bertekad tidak akan naik haji, sebelum anak-anak dikampung itu mendapat pendidikan yang layak."
Ibrahim belum lama masuk Islam. Ia bingung mengapa miliaran uang dibuang hanya untuk sebuah upacara ibadah. Saya bingung juga untuk menjelaskan bahwa haji adalah rukun Islam yang kelima. Haji jelas termaktub dalam Alqur’an dan sunnah, sedangkan membantu pendidikan tidak disebutkan di dalam keduanya dengan tegas.
“Tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga”, begitu hadist Nabi SAW. Apa pahala yang kita peroleh untuk membiayai pendidikan? Bila orang yang mampu tidak mau naik haji, ia akan mati sebagai Nasrani atau Yahudi.
Namun apabila orang kaya mengabaikan pendidikan orang miskin di sekitarnya, ia akan mati biasa saja. Bila orang meneteskan air mata di ‘Arafah, Tuhan akan mengampuni seluruh dosanya. Bila anda meneteskan air mata di gubuk orang miskin, anda hanya akan dianggap orang cengeng saja.
Saya ingin menjelaskan semuanya kepada Ibrahim. Tetapi, saya segera sadar: semua argumentasi itu lahir karena saya rasa ia menyerang cara beragama saya selama ini. Ia menghujat pemaknaan saya terhadap syariat Islam. Ia bahkan memukul hati nurani saya. Jauh didalam lubuk hati, saya mulai bertanya-tanya juga. Layakkah kita menghabiskan dana begitu besar untuk kepuasan spiritual yang sifatnya individu?
Tetapi, bila kita meninggalkan ibadah haji, tidakkah kita mengabaikan salah satu tonggak penting ajaran Islam? Jawaban yang paling baik tentu saja haji dan sekaligus menolong fakir miskin. Yang begini ini lebih mudah diomongkan daripada dilakukan. Kenyataannya, karena dana terbatas, ktia memilih salah satu. Yang kita pilih, tentu saja haji.
Mengapa?
Argumentasi yang sama berulang. Haji jelas perintah yang termaktub dalam nash. Apakah membantu pendidikan tidak ada dalam nash? Mungkinkah Allah SWT mengatur kaki mana yang pertama masuk ke toilet mengabaikan persoalan pendidikan masyarakat? Soal "kaki mana yang dipilih" hampir tidak mempengaruhi kejayaan umat Islam. Kepedulian tentang pendidikan jelas menentukan masa depan umat.
Saya terkejut. Saya telah jatuh pada ‘ritualisme’. Ada dua ciri pokok ritualisme.
Pertama, keterikatan pada makna tersurat dari teks-teks keagamaan. Bila tidak tercantum tegas dalam nash, kita mengabaikannya.
Kedua, kita menjalankan ritus-ritus keagamaan dengan setia, tetapi kita lupa pada tujuan ritus-ritus itu. Kita sibuk memperhatikan letak tangan dalam berdiri saat shalat, namun lupa akan implikasi shalat kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita hapalkan betul ucapan takbir, tetapi mengabaikan esensi takbir, yaitu mengecilkan diri kita dan hanya membesarkan Tuhan semata.
Keduanya bisa saling berkaitan. Kerena kita memusatkan perhatian hanya pada bunyi teks, kita melupakan konteks. Karena kita tertarik hanya pada segi-segi ritual, kita mengabaikan teks yang merujuk pada hal-hal yang esensial. Kita hapal betul ucapan Rasulullah SAW. Bahwa haji mabrur tidak mempunyai balasan kecuali surga. Kita abaikan penjelasan Nabi sesudah itu. Ketika Nabi saw ditanya tentang tanda-tanda haji mabrur, beliau berkata, "Berbicara yang bagus dan memberikan makanan untuk orang miskin."
Ketika berbagai cara haji disampaikan kepadanya, Nabi saw. Bersabda,"Boleh, tidak apa-apa." Beliau tidak mempersoalkan ritus-ritus itu. Ketika para sahabat memperselisihkan prosedur haji, ayat Alqur’an turun::”…barangsiapa yang menetapkan niat dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan haji. (QS 2: 197).
Jangan sekali-kali diartikan bahwa ritus-ritus itu tidak penting. Ia tetap penting dan tetap harus dilakukan. Ritualme keliru karena berhenti pada ritus. Pada ritualisme, agama tampak hanya sebagai serangkaian upacara formal yang kering dan tidak bermakna.
Berkenaan dengan ritualisme inilah Rasulullah saw. Bersabda, "Akan datang kepada manusia, satu zaman, ketika Tuhan-tuhan mereka adalah perut, kiblat mereka seks, agama mereka uang, kemuliaan mereka kekayaan. Tidak tersisa dari iman, kecuali namanya,; tak tersisa dari Islam, kecuali upacaranya; tak tersisa dari Alqur’an, kecuali pelajarannya. Mesjid-mesjid mereka ramai, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk. Merkea tidak mengenal ulama, kecuali pakaian keulamaannya yang bagus. Mereka tidak mengenal Alqur’an, kecuali dari suara bacaannya yang bagus. Mereka duduk rapat di masjid, tetapi zikirnya dunia dan kecintaannya dunia." (kitab Jami’k al-Akbar).
Ibrahim benar ketika ia mengkritik ritualisme pada kebanyakan kita. Tetapi, ia keliru ketika bertekad untuk tidak naik haji karena melihat orang yang mengabaikan pendidikan. Ia bergabung dengan sebagian orang yang meloncat kepada makna yang paling dalam dengan meninggalkan ritus-ritus lahirnya: mereka mengatakan bahwa ritus-ritus itu hanya wahana saja untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi. Ketika mereka menyatakan tidak perlu wahana lagi, mereka sudah mengklaim dirinya sebagai orang suci. Klaim itu, dalam tasawuf disebut sebagai ‘ujb (merasa kagum dengan dirinya). Iblis jatuh karena itu.
Ritualisme sama ekstremnya dengan substansialisme. Eksoterisme sama satu sisinya dengan esoterisme. Sebagiamana Allah (Dialah Yang Lahir dan Yang Batin – QS 57: 3), seorang muslim menjalankan dimensi keberagamaannya yang lahir dan yang batin sekaligus. Wallahualam bissawab
Dikutip tanpa izin dari tulisan Ustadz KH Jalaluddin Rakhmat, “Reformasi Sufistik”, Oktober 1998
Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono (IPH)
Healing Words from Jalaluddin Rumi
Healing Word from Jalaluddin Rumi
Kata-kata Bijak Yang Menyembuhkan Jiwa
Sang Penjaga Hati tidak akan meninggalkanmu, baik dalam kasih sayang ataupun kekejaman.
Juga dalam kekafiran maupun persaksian.
Kemanapun engkau tautkan hatimu pada sesuatu, keperkasaan-Nya akan merobekmu.
Wahai hati, jangan engkau taruh dirimu di sembarang tempat, jangan!
.*¤*.
Allah tidak memerlukan Nabi-Nabi, tapi dengan keagungan dan karunia membuat keindahan sinar-Nya memancar.
Dari sinar itu Adam menerima ilmu tentang Allah.
Dari pancaran cahaya itu Ibrahim menghadapi api tanpa rasa takut
.*¤*.
Jalan kehidupan rohani membuat badan remuk kemudian memulihkannya menjadi sehat.
Dan menghancurkan harta berharga dan dengan harta itu dapat membangun lebih baik dari sebelumnya
.*¤*.
Para pecinta pasti mencari yang dicintai.
Pencarian itu memancar diatas wajah dan kepala mereka bagaikan aliran deras menuju gelombang-Nya.
Tapi, sesungguhnya hanya Dia-lah Sang pencari.
Para pecinta ibaratnya hanyalah bayang-bayang
.*¤*.
Tidak menepati janji adalah karena kebodohan;
Menepati apa yang dikatakannya adalah kebiasaan orang bertakwa kepada Allah dengan rasa cinta
.*¤*.
Dia ada pada orang yang wajahnya mendapat senyuman manis sang kekasih, apa yang merugikannya dari pandangan kecut orang lain?
.*¤*.
Ingatlah!
Penyesalan yang memancar dari dalam dan mengucurkan air mata.
Halilintar dan awan yang demikian diperlukan.
Tanpa halilintar dihati dan semburan hujan dari mata, bagaimana api Illahi yang murka akan dapat dipadamkan?
.*¤*.
Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar itulah yang terbaik bagimu!
Dan karena itulah, hati seorang pecinta lebih besar ketimbang Singgasana Tuhan
.*¤*.
Ketahuilah, Cinta adalah madrasah dimana Yang Maha Kuasa sebagai gurunya.
Kita semua ibarat siswanya, dan kata-kata ini adalah bacaan kita
.*¤*.
Makhluk-makhluk bergerak karena Cinta, yaitu Cinta oleh Keabadian tanpa permulaan.
Saksikan, angin menari-nari digerakan kuasa semesta.
Karena itulah Ia pun bisa menggerakan pepohonan
.*¤*.
Orang yang arif, pada saat terjadi malapetaka akan berjaga-jaga untuk menghindari, kematian teman-teman menjadi peringatan
.*¤*.
Dulu,
hatiku dan Cinta bekerja sama.
Namun, sedikit demi sedikit, kini aku mulai bisa mengingat.
Secara lahiriah, memang seakan diriku telah melahirkan cinta.
Namun cintalah yang sesungguhnya telah melahirkanku
.*¤*.
Jika saja bukan karena keridhaan-Mu, apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini dengan Cinta-Mu?
.*¤*.
Rasulullah berkata,"Mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur terhadap Rabb Yang Menciptakan Segalanya."
Mata kamu terjaga, dan hati kamu tenggelam dalam tidur;
mataku tidur, tapi hatiku merenungkan terbukanya pintu rahmat Tuhan
.*¤*.
Iblis bertanya,
"Dapatkah kau menceritakan kebohongan dari kebenaran, kau yang sudah dijejali angan-angan?"
Mu'awiyah menjawab,
"Nabi sudah beri petunjuk, sebuah ujian untuk mengetahui mana uang logam palsu dan mana yang benar."
Dia berkata, "Yang palsu kacaukan hati, tapi kebenaran membawa ketenangan yang menggembirakan
.*¤*.
Kata-kata Bijak Yang Menyembuhkan Jiwa
Sang Penjaga Hati tidak akan meninggalkanmu, baik dalam kasih sayang ataupun kekejaman.
Juga dalam kekafiran maupun persaksian.
Kemanapun engkau tautkan hatimu pada sesuatu, keperkasaan-Nya akan merobekmu.
Wahai hati, jangan engkau taruh dirimu di sembarang tempat, jangan!
.*¤*.
Allah tidak memerlukan Nabi-Nabi, tapi dengan keagungan dan karunia membuat keindahan sinar-Nya memancar.
Dari sinar itu Adam menerima ilmu tentang Allah.
Dari pancaran cahaya itu Ibrahim menghadapi api tanpa rasa takut
.*¤*.
Jalan kehidupan rohani membuat badan remuk kemudian memulihkannya menjadi sehat.
Dan menghancurkan harta berharga dan dengan harta itu dapat membangun lebih baik dari sebelumnya
.*¤*.
Para pecinta pasti mencari yang dicintai.
Pencarian itu memancar diatas wajah dan kepala mereka bagaikan aliran deras menuju gelombang-Nya.
Tapi, sesungguhnya hanya Dia-lah Sang pencari.
Para pecinta ibaratnya hanyalah bayang-bayang
.*¤*.
Tidak menepati janji adalah karena kebodohan;
Menepati apa yang dikatakannya adalah kebiasaan orang bertakwa kepada Allah dengan rasa cinta
.*¤*.
Dia ada pada orang yang wajahnya mendapat senyuman manis sang kekasih, apa yang merugikannya dari pandangan kecut orang lain?
.*¤*.
Ingatlah!
Penyesalan yang memancar dari dalam dan mengucurkan air mata.
Halilintar dan awan yang demikian diperlukan.
Tanpa halilintar dihati dan semburan hujan dari mata, bagaimana api Illahi yang murka akan dapat dipadamkan?
.*¤*.
Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar itulah yang terbaik bagimu!
Dan karena itulah, hati seorang pecinta lebih besar ketimbang Singgasana Tuhan
.*¤*.
Ketahuilah, Cinta adalah madrasah dimana Yang Maha Kuasa sebagai gurunya.
Kita semua ibarat siswanya, dan kata-kata ini adalah bacaan kita
.*¤*.
Makhluk-makhluk bergerak karena Cinta, yaitu Cinta oleh Keabadian tanpa permulaan.
Saksikan, angin menari-nari digerakan kuasa semesta.
Karena itulah Ia pun bisa menggerakan pepohonan
.*¤*.
Orang yang arif, pada saat terjadi malapetaka akan berjaga-jaga untuk menghindari, kematian teman-teman menjadi peringatan
.*¤*.
Dulu,
hatiku dan Cinta bekerja sama.
Namun, sedikit demi sedikit, kini aku mulai bisa mengingat.
Secara lahiriah, memang seakan diriku telah melahirkan cinta.
Namun cintalah yang sesungguhnya telah melahirkanku
.*¤*.
Jika saja bukan karena keridhaan-Mu, apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini dengan Cinta-Mu?
.*¤*.
Rasulullah berkata,"Mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur terhadap Rabb Yang Menciptakan Segalanya."
Mata kamu terjaga, dan hati kamu tenggelam dalam tidur;
mataku tidur, tapi hatiku merenungkan terbukanya pintu rahmat Tuhan
.*¤*.
Iblis bertanya,
"Dapatkah kau menceritakan kebohongan dari kebenaran, kau yang sudah dijejali angan-angan?"
Mu'awiyah menjawab,
"Nabi sudah beri petunjuk, sebuah ujian untuk mengetahui mana uang logam palsu dan mana yang benar."
Dia berkata, "Yang palsu kacaukan hati, tapi kebenaran membawa ketenangan yang menggembirakan
.*¤*.
Menampar Speilberg (joke)
Menampar Speilberg
Suatu malam di Amerika, seorang pria China masuk ke sebuah bar dan melihat sutradara kondang Steven Spielberg. Dengan hati gembira, dia bergegas menghampiri menghampiri untuk minta tanda tangan.
Sayang, bukan tanda tangan yang didapat, Speilberg malah menamparnya dan berkata, “kalian orang Chinese, mengebom Pearl Harbour, enyah dari sini.” Spontan pria itu menjawab, “Bukan Chinese yang mengebom Pearl Harbour, tapi Japanese”.
“Chinese, Japanese, Taiwanese, kalian sama saja” ujar Speilberg. Merasa dongkol atas perlakuan tadi, dia balas menampar Speilberg dan berseru, “Kamu yang menenggelamkan Titanic, kakek moyang saya ada di kapal itu!”
Terkejut, speilberg menjawab, “Iceberg (gunung es) yang menenggelamkan kapal itu, bukan saya!” Pria China itu lalu berkata dengan kalem, “Iceberg, Speilberg, Carlsberg, kalian semua sama saja…”
(Humor ini memenangkan award sebagai “the best joke” dalam sebuah kompetisi di Inggris)
Suatu malam di Amerika, seorang pria China masuk ke sebuah bar dan melihat sutradara kondang Steven Spielberg. Dengan hati gembira, dia bergegas menghampiri menghampiri untuk minta tanda tangan.
Sayang, bukan tanda tangan yang didapat, Speilberg malah menamparnya dan berkata, “kalian orang Chinese, mengebom Pearl Harbour, enyah dari sini.” Spontan pria itu menjawab, “Bukan Chinese yang mengebom Pearl Harbour, tapi Japanese”.
“Chinese, Japanese, Taiwanese, kalian sama saja” ujar Speilberg. Merasa dongkol atas perlakuan tadi, dia balas menampar Speilberg dan berseru, “Kamu yang menenggelamkan Titanic, kakek moyang saya ada di kapal itu!”
Terkejut, speilberg menjawab, “Iceberg (gunung es) yang menenggelamkan kapal itu, bukan saya!” Pria China itu lalu berkata dengan kalem, “Iceberg, Speilberg, Carlsberg, kalian semua sama saja…”
(Humor ini memenangkan award sebagai “the best joke” dalam sebuah kompetisi di Inggris)
Masjid Al-Aqsha Riwayatmu dulu
Masjid Al-Aqsha Riwayatmu dulu
sumber: Ensiklopedi Nurcholish Madjid
Setelah Nabi Sulaiman berkuasa, di atas tempat peletakkan tâbût ia membangun masjid besar yang kemudian dikenal dengan al-Masjid al-Aqsha (didirikan sekitar 1.000 tahun sebelum Masehi). Kalau kita membaca Al-Quran surat Al-Isrâ’, ada keterangan sangat menarik yang bisa dijadikan sebagai titik tolak untuk mempelajari bagaimana nasib al-Masjid al-Aqsha. Firman Allah Swt.:
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَاءِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي اْلأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا {4} فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ أُوْلاَهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً {5} ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاهُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا {6} إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ اْلأَخِرَةِ لِيَسُوئُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَاعَلَوْا تَتْبِيرًا {7}
Dan Kami memberi peringatan (yang jelas) kepada Bani Israil di dalam Kitab, bahwa mereka akan dua kali membuat kerusakan di muka bumi dan merasa unggul dengan kesombongan yang besar (dan dua kali mereka diazab). Maka ketika peringatan pertama sudah berlaku, Kami utus kepadamu hamba-hamba Kami yang berkekuatan dahsyat; mereka menyusup ke dalam kampung-kampung; dan itulah peringatan yang sudah (sepenuhnya) terlaksana. Kemudian Kami berikan kepada kamu giliran melawan mereka; dan Kami bantu kamu berupa harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu golongan yang lebih besar. Kalau kamu berbuat baik, berbuat baiklah untuk dirimu sendiri. Kalau kamu berbuat jahat, (perbuatanmu) untuk dirimu sendiri. Maka jika peringatan kedua sudah lalu (Kami mengizinkan musuh-musuhmu) akan merusak wajah-wajahmu, dan mereka memasuki Kuil sebagaimana telah mereka masuki pertama kali, dan mereka membinasakan segala yang berada di bawah kekuasaan mereka (Q., 17: 4-7).
Kapan itu terjadi? Menurut para ahli tafsir, yang pertama ialah ketika Nebukadnezar menyerbu Palestina, kurang lebih 600 tahun Sebelum Masehi atau kurang lebih 300-an tahun setelah Nabi Sulaiman. Orang-orang Babilon merajalela di seluruh pelosok Palestina; mereka tidak hanya meratakan tanah Yerusalem atau Al-Quds atau Al-Bayt Al-Maqdis, bahkan orang Yahudi diboyong ke Irak (Babilonia) dan dijadikan budak. Inilah masa perbudakan bangsa Yahudi.
Bangsa Babilon kemudian berperang dengan orang Persi. Perang Persi ini menjadi contoh bagi Inggris pada waktu Perang Dunia ke-2. Orang Inggris kira-kira berkata begini kepada orang Yahudi, “Hey orang Yahudi, kami sedang berperang melawan Jerman, kalau kamu menolong kami dan kami menang, kamu boleh kembali ke Palestina.” Itu permulaan riwayat Israil melalui Bellfor Declaration. Dulu, orang Persi juga melakukan tindakan seperti itu. “Hey orang Yahudi, kita sedang berperang dengan orang Babilon, kalau kami menang kamu boleh kembali ke Palestina, kamu akan bebas dari perbudakan.” Ternyata Persi menang. Orang Yahudi pun diperbolehkan kembal ke Palestina, diperbolehkan membangun masjid asalkan tidak megah; tetapi orang Persi tetap memegang kendali.
Hal tersebut berjalan selama ratusan tahun, sampai datang raja Yahudi bernama Herod yang agung. Dia sebetulnya orang Arab, tetapi menjadi raja Yahudi. Sekitar 30-an tahun sebelum Nabi Isa lahir, masjid yang sudah dihancurkan pun dibangunnya kembali. Konon, bangunan itu lebih hebat daripada yang semula. Ketika bangunan masjid itu berdiri megah, Nabi Isa melihat hal-hal yang tidak beres. Meski masjid itu seolah-olah proyek Mercusuar, tetapi akhlak orang Yahudi sendiri telah rusak. Masjid tidak berfungsi, malahan di depannya terjadi praktek lintah darat. Oleh karena itu, ada cerita tentang Nabi Isa yang masuk ke masjid itu dan keluar sambil menendangi meja-meja kaum lintah darat seraya mengutuk, “kalau begini suatu saat Allah Swt. akan mengirimkan azab lagi kepada kalian dan masjid ini pasti hancur”.
Kutukan tersebut memang terjadi, yaitu ketika pada tahun 70 Masehi Titus dari Roma menyerbu dan menghancurleburkan Palestina, termasuk masjidnya. Hal demikian terjadi karena orang Yahudi tidak mau tunduk kepada Roma. Di samping itu, menurut pandangan keagamaan, orang Yahudi memang telah menyimpang dari yang benar, misalnya mempraktikkan lintah darat. (Fenomena riba sebetulnya dipelopori orang-orang Yahudi; istilah bankrut di masa sekarang berasal dari bahasa Latin bankarota, banka artinya meja dan rota artinya roboh).
Lebih dari itu, Titus juga melarang orang Yahudi tinggal di Palestina. Inilah awal pengalaman bangsa Yahudi paling menyedihkan yang disebut diaspora. Diaspora artinya merana di muka bumi tanpa tanah air dan selalu dihina orang. Mereka hidup di ghetto-ghetto (ghetto adalah tempat kumuh, dan erat sekali terkait dengan orang Yahudi; kalau di Eropa, yang disebut ghetto adalah tempat kumuh orang Yahudi). Inilah sebetulnya yang disebut oleh Al-Quran,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ اْلأَنبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
Mereka selalu ditimpa kehinaan (seperti kemah) di mana pun mereka berada, kecuali bila mereka berpegang pada tali (janji) dari Allah dan tali (janji) dari manusia (Q., 3: 112).
Artinya, Bangsa Israil akan terlepas dari kehinaan apabila mereka memelihara hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia.
Demikianlah, orang-orang Roma kemudian berusaha mengikis habis sisa-sisa keyahudian dari Yerusalem. Bahkan nama Yerusalem (Al-Quds, tempat suci) pun tidak boleh digunakan. Yerusalem selanjutnya dijadikan pusat pemujaan kepada Dewi Aelia (sebuah patung Dewi dari Roma yang namanya Aelia). Patung Dewi Aelia didirikan persis di atas Ka’bah orang Yahudi. Nama Yerusalem pun diganti menjadi Aelia Capitolina yang berarti kota Aelia. Maka, pada waktu Umar membuat perjanjian dengan orang-orang Yerusalem, perjanjian itu disebut “Perjanjian Aelia” (Mîtsâq Aelia). Setelah menjadi pusat penyembahan berhala, Konstantin masuk Kristen.
sumber: Ensiklopedi Nurcholish Madjid
Setelah Nabi Sulaiman berkuasa, di atas tempat peletakkan tâbût ia membangun masjid besar yang kemudian dikenal dengan al-Masjid al-Aqsha (didirikan sekitar 1.000 tahun sebelum Masehi). Kalau kita membaca Al-Quran surat Al-Isrâ’, ada keterangan sangat menarik yang bisa dijadikan sebagai titik tolak untuk mempelajari bagaimana nasib al-Masjid al-Aqsha. Firman Allah Swt.:
وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَاءِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي اْلأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا {4} فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ أُوْلاَهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ أُوْلِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلاَلَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُولاً {5} ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاهُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا {6} إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ اْلأَخِرَةِ لِيَسُوئُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَاعَلَوْا تَتْبِيرًا {7}
Dan Kami memberi peringatan (yang jelas) kepada Bani Israil di dalam Kitab, bahwa mereka akan dua kali membuat kerusakan di muka bumi dan merasa unggul dengan kesombongan yang besar (dan dua kali mereka diazab). Maka ketika peringatan pertama sudah berlaku, Kami utus kepadamu hamba-hamba Kami yang berkekuatan dahsyat; mereka menyusup ke dalam kampung-kampung; dan itulah peringatan yang sudah (sepenuhnya) terlaksana. Kemudian Kami berikan kepada kamu giliran melawan mereka; dan Kami bantu kamu berupa harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu golongan yang lebih besar. Kalau kamu berbuat baik, berbuat baiklah untuk dirimu sendiri. Kalau kamu berbuat jahat, (perbuatanmu) untuk dirimu sendiri. Maka jika peringatan kedua sudah lalu (Kami mengizinkan musuh-musuhmu) akan merusak wajah-wajahmu, dan mereka memasuki Kuil sebagaimana telah mereka masuki pertama kali, dan mereka membinasakan segala yang berada di bawah kekuasaan mereka (Q., 17: 4-7).
Kapan itu terjadi? Menurut para ahli tafsir, yang pertama ialah ketika Nebukadnezar menyerbu Palestina, kurang lebih 600 tahun Sebelum Masehi atau kurang lebih 300-an tahun setelah Nabi Sulaiman. Orang-orang Babilon merajalela di seluruh pelosok Palestina; mereka tidak hanya meratakan tanah Yerusalem atau Al-Quds atau Al-Bayt Al-Maqdis, bahkan orang Yahudi diboyong ke Irak (Babilonia) dan dijadikan budak. Inilah masa perbudakan bangsa Yahudi.
Bangsa Babilon kemudian berperang dengan orang Persi. Perang Persi ini menjadi contoh bagi Inggris pada waktu Perang Dunia ke-2. Orang Inggris kira-kira berkata begini kepada orang Yahudi, “Hey orang Yahudi, kami sedang berperang melawan Jerman, kalau kamu menolong kami dan kami menang, kamu boleh kembali ke Palestina.” Itu permulaan riwayat Israil melalui Bellfor Declaration. Dulu, orang Persi juga melakukan tindakan seperti itu. “Hey orang Yahudi, kita sedang berperang dengan orang Babilon, kalau kami menang kamu boleh kembali ke Palestina, kamu akan bebas dari perbudakan.” Ternyata Persi menang. Orang Yahudi pun diperbolehkan kembal ke Palestina, diperbolehkan membangun masjid asalkan tidak megah; tetapi orang Persi tetap memegang kendali.
Hal tersebut berjalan selama ratusan tahun, sampai datang raja Yahudi bernama Herod yang agung. Dia sebetulnya orang Arab, tetapi menjadi raja Yahudi. Sekitar 30-an tahun sebelum Nabi Isa lahir, masjid yang sudah dihancurkan pun dibangunnya kembali. Konon, bangunan itu lebih hebat daripada yang semula. Ketika bangunan masjid itu berdiri megah, Nabi Isa melihat hal-hal yang tidak beres. Meski masjid itu seolah-olah proyek Mercusuar, tetapi akhlak orang Yahudi sendiri telah rusak. Masjid tidak berfungsi, malahan di depannya terjadi praktek lintah darat. Oleh karena itu, ada cerita tentang Nabi Isa yang masuk ke masjid itu dan keluar sambil menendangi meja-meja kaum lintah darat seraya mengutuk, “kalau begini suatu saat Allah Swt. akan mengirimkan azab lagi kepada kalian dan masjid ini pasti hancur”.
Kutukan tersebut memang terjadi, yaitu ketika pada tahun 70 Masehi Titus dari Roma menyerbu dan menghancurleburkan Palestina, termasuk masjidnya. Hal demikian terjadi karena orang Yahudi tidak mau tunduk kepada Roma. Di samping itu, menurut pandangan keagamaan, orang Yahudi memang telah menyimpang dari yang benar, misalnya mempraktikkan lintah darat. (Fenomena riba sebetulnya dipelopori orang-orang Yahudi; istilah bankrut di masa sekarang berasal dari bahasa Latin bankarota, banka artinya meja dan rota artinya roboh).
Lebih dari itu, Titus juga melarang orang Yahudi tinggal di Palestina. Inilah awal pengalaman bangsa Yahudi paling menyedihkan yang disebut diaspora. Diaspora artinya merana di muka bumi tanpa tanah air dan selalu dihina orang. Mereka hidup di ghetto-ghetto (ghetto adalah tempat kumuh, dan erat sekali terkait dengan orang Yahudi; kalau di Eropa, yang disebut ghetto adalah tempat kumuh orang Yahudi). Inilah sebetulnya yang disebut oleh Al-Quran,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِئَايَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُونَ اْلأَنبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَواْ وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
Mereka selalu ditimpa kehinaan (seperti kemah) di mana pun mereka berada, kecuali bila mereka berpegang pada tali (janji) dari Allah dan tali (janji) dari manusia (Q., 3: 112).
Artinya, Bangsa Israil akan terlepas dari kehinaan apabila mereka memelihara hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia.
Demikianlah, orang-orang Roma kemudian berusaha mengikis habis sisa-sisa keyahudian dari Yerusalem. Bahkan nama Yerusalem (Al-Quds, tempat suci) pun tidak boleh digunakan. Yerusalem selanjutnya dijadikan pusat pemujaan kepada Dewi Aelia (sebuah patung Dewi dari Roma yang namanya Aelia). Patung Dewi Aelia didirikan persis di atas Ka’bah orang Yahudi. Nama Yerusalem pun diganti menjadi Aelia Capitolina yang berarti kota Aelia. Maka, pada waktu Umar membuat perjanjian dengan orang-orang Yerusalem, perjanjian itu disebut “Perjanjian Aelia” (Mîtsâq Aelia). Setelah menjadi pusat penyembahan berhala, Konstantin masuk Kristen.
Masjidil Haram 2010 (Pakai Payung Raksasa)
Renovasi dan perluasan tahap keempat Masjidil Haram bisa menghilangkan lanskap Mekkah kuno. Wilayah sekeliling masjid terbesar dan tersuci sedunia ini menjadi kawasan real estate termahal sejagat. Harga tanah mencapai Rp 625 juta per meter persegi.
Suara klakson truk-truk pengangkut material bangunan membelah ratusan jamaah yang bergegas menuju Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, suatu siang di penghujung Juni lalu. Di tengah sengatan matahari gurun sepanas 44 derajat celsius, para jamaah menepi sembari menutup hidung. Mereka terkepung kepulan debu pekat dari roda truk yang menjejak tanah tak rata akibat reruntuhan gedung.
Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor, yang dulu memenuhi sisi barat daya hingga utara Masjidil Haram, kini nyaris rata dengan tanah. Suasana di lokasi seluas 230.000 meter persegi itu awut-awutan. Persis seperti zona perang. Bukit-bukit reruntuhan bangunan menyembul sepanjang tebaran mata. Beberapa gedung masih tegak berdiri, tapi nyaris tanpa dinding.
Ratusan truk, buldozer, dan crane milik kontraktor Saudi bin Laden terlihat hilir mudik. Sedangkan mesin-mesin pengungkit raksasa menjulang di angkasa, di sekeliling bangunan dan menara Masjidil Haram yang terbungkus kerangka besi. Semua ini membuat tampilan anggun masjid terluas di dunia itu seperti dalam kartu pos sama sekali tak terlihat.
Renovasi besar-besaran itu mulai berderap Mei lalu atas perintah Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain). Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 356.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di halaman.
Proyek pengembangan keempat itu bisa dibilang yang terbesar. Menurut data dari Kementerian Urusan Kota dan Desa, yang dipublikasikan kantor berita KPA, Pemerintah Arab Saudi akan memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat.
Pembangunan intensif juga terjadi di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi subway juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah.
Proyek yang diperkirakan baru tuntas tahun 2020 itu bakal menyerap dana hingga US$ 100 milyar (Rp 920 trilyun). Gelontoran dana superbanyak ini mencakup pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di Mekkah.
Sumber pendanaannya beragam, dari asing hingga dana internal Saudi yang tengah menikmati berkah melambungnya harga minyak dunia, yang nyaris menyentuh US$ 150 per barel. Meski proyek itu tergolong amat besar, para investor sama sekali tak ragu menanamkan modalnya. ''Bagi mereka, tempat ini adalah safe haven yang menjanjikan keuntungan besar. Musim haji dan umrah rutin berjalan tiap tahun, dengan jumlah muslim dunia yang terus bertambah,'' kata Imad Awad, Head of Equity Capital Markets NBD Investment Bank.
Setiap tahun, jumlah jamaah haji mencapai 4 juta orang, plus belasan juta jamaah umrah. Selama lima tahun mendatang, jumlahnya meningkat hingga 10% setiap tahun. Data Kadin Mekkah menyebutkan, tahun lalu, belanja para jamaah haji dan umrah mencapai 10 milyar riyal (Rp 25 trilyun) di Mekkah saja.
Kehadiran 15-an juta jamaah itu tentu saja membutuhkan akomodasi tempat tinggal serta kesempatan beribadah yang nyaman dan memadai. Inilah salah satu landasan utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Masjidil Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya. Menurut Fahas bin Al-Jarboa, Wakil Sekretaris Jenderal Supreme Commission for Tourism in Saudi Arabia, megaproyek itu bakal mengubah seluruh kawasan seputar Masjidil Haram. ''Kami berharap, ini juga akan mengubah Mekkah secara dramatis,'' kata Fahas.
Dramatis, karena pembersihan kawasan sekitar Masjidil Haram tak segan meruntuhkan bangunan megah hotel bintang lima dan empat sekalipun. Mulai Hotel Sheraton, Hotel Sofitel, Hotel Qurtuba, Hotel Zahret, Hotel Darkum, Hotel Talal, Hotel Firdaus Umrah, hingga Hotel Firdaus Mekkah, semuanya akan diratakan dengan tanah. Hotel-hotel ini, bersama bangunan perumahan lainnya, masuk areal seluas 587.250 meter persegi di seluruh Mekkah yang harus ditata ulang.
Jika ditotal, renovasi Masjidil Haram dan kota Mekkah dijalankan lewat 973 proyek baru. Terbagi menjadi beberapa wilayah, seperti 85 proyek di wilayah Syamiyah yang terletak di sisi barat laut hingga utara Masjidil Haram. Kawasan ini akan dipenuhi hotel bintang lima, pertokoan, pusat perbelanjaan, dan restoran.
Di sisi barat Masjidil Haram yang meliputi kawasan Jabal Umar dan Jabal Ka'bah dibangun hal serupa. Plus stasiun kereta api induk, areal parkir yang mampu memuat 12.000 mobil, pasar, dan fasilitas umum lainnya. Sebuah terowongan sepanjang 1.000 meter akan dibangun menembus Jabal Umar dan menyambung ke Jalan Ummul Qura.
Di sisi tenggara dan selatan, yang mencakup kawasan Jabal Khandama, dibangun hunian untuk menampung 240.000 orang. Salah satu proyek terbesar di kawasan ini adalah Abraj al-Bait. Proyek pembangunan tujuh menara pencakar langit ini selesai tahun depan dan sanggup menampung 65.000 orang. Di kawasan ini juga dibuat jalur pejalan kaki menuju Masjidil Haram, yang terhubung dengan dua jalan utama.
Meski perombakan besar-besaran kali ini diiringi dengan pembangunan fasilitas angkutan massal dan pelayanan publik lainnya, bagi sebagian ahli sejarah dan tata kota, perubahannya terlalu besar. Salah satu pihak yang keberatan adalah Sami Angawi, arsitek dan pendiri Centre for the Custodian of the two Holy Mosques Institute for Hajj Research. Sami menilai, mereka tengah menyaksikan detik-detik terakhir Mekkah tampak seperti pada saat diciptakan Tuhan dengan lanskap dan gunung-gunungnya.
Pemerintah Saudi ingin meratakan gunung-gunung di Mekkah supaya lebih banyak lahan datar. ''Mestinya lanskap kota Mekkah tradisional tetap dipertahankan. Jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin orang dan seberapa banyak uang yang bisa diperoleh,'' ujar Sami.
Beberapa pihak lain menyayangkan pembangunan gedung pencakar langit di sekitar Masjidil Haram itu. Sebab gedung pencakar langit itu akan menutupi pandangan dari Ka'bah dan landmark di sekelilingnya. Kondisi ini akan menghilangkan keseimbangan letak Masjidil Haram, yang secara filosofis dipandang sebagai contoh pusat keseimbangan dunia. ''Alasan mereka bisa dipahami. Tapi, di sisi lain, kita butuh tempat untuk menampung jamaah,'' kata Lahem al-Nasser, seorang ahli perbankan Islam yang mendukung megaproyek perluasan Masjidil Haram itu.
Megaproyek ini juga memicu kenaikan harga properti di Mekkah. Kini harga tanah mencapai 250.000 riyal (Rp 625 juta) per meter persegi di kawasan sekitar Masjidil Haram. Nyaris dua kali lipat dari harga tanah di Monako, negara yang selama ini memiliki kawasan real estate paling mahal menurut data Global Property Guide. "Malah para pengembang mengira, harga tanah akan naik empat kali lipat hingga 1 juta riyal (Rp 2,5 milyar) per meter,'' ujar Imad Awad. Harga tanah yang paling mahal ini terletak di area yang bisa melihat langsung pemandangan Ka'bah.
Suara klakson truk-truk pengangkut material bangunan membelah ratusan jamaah yang bergegas menuju Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, suatu siang di penghujung Juni lalu. Di tengah sengatan matahari gurun sepanas 44 derajat celsius, para jamaah menepi sembari menutup hidung. Mereka terkepung kepulan debu pekat dari roda truk yang menjejak tanah tak rata akibat reruntuhan gedung.
Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor, yang dulu memenuhi sisi barat daya hingga utara Masjidil Haram, kini nyaris rata dengan tanah. Suasana di lokasi seluas 230.000 meter persegi itu awut-awutan. Persis seperti zona perang. Bukit-bukit reruntuhan bangunan menyembul sepanjang tebaran mata. Beberapa gedung masih tegak berdiri, tapi nyaris tanpa dinding.
Ratusan truk, buldozer, dan crane milik kontraktor Saudi bin Laden terlihat hilir mudik. Sedangkan mesin-mesin pengungkit raksasa menjulang di angkasa, di sekeliling bangunan dan menara Masjidil Haram yang terbungkus kerangka besi. Semua ini membuat tampilan anggun masjid terluas di dunia itu seperti dalam kartu pos sama sekali tak terlihat.
Renovasi besar-besaran itu mulai berderap Mei lalu atas perintah Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain). Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 356.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di halaman.
Proyek pengembangan keempat itu bisa dibilang yang terbesar. Menurut data dari Kementerian Urusan Kota dan Desa, yang dipublikasikan kantor berita KPA, Pemerintah Arab Saudi akan memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat.
Pembangunan intensif juga terjadi di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi subway juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah.
Proyek yang diperkirakan baru tuntas tahun 2020 itu bakal menyerap dana hingga US$ 100 milyar (Rp 920 trilyun). Gelontoran dana superbanyak ini mencakup pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di Mekkah.
Sumber pendanaannya beragam, dari asing hingga dana internal Saudi yang tengah menikmati berkah melambungnya harga minyak dunia, yang nyaris menyentuh US$ 150 per barel. Meski proyek itu tergolong amat besar, para investor sama sekali tak ragu menanamkan modalnya. ''Bagi mereka, tempat ini adalah safe haven yang menjanjikan keuntungan besar. Musim haji dan umrah rutin berjalan tiap tahun, dengan jumlah muslim dunia yang terus bertambah,'' kata Imad Awad, Head of Equity Capital Markets NBD Investment Bank.
Setiap tahun, jumlah jamaah haji mencapai 4 juta orang, plus belasan juta jamaah umrah. Selama lima tahun mendatang, jumlahnya meningkat hingga 10% setiap tahun. Data Kadin Mekkah menyebutkan, tahun lalu, belanja para jamaah haji dan umrah mencapai 10 milyar riyal (Rp 25 trilyun) di Mekkah saja.
Kehadiran 15-an juta jamaah itu tentu saja membutuhkan akomodasi tempat tinggal serta kesempatan beribadah yang nyaman dan memadai. Inilah salah satu landasan utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Masjidil Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya. Menurut Fahas bin Al-Jarboa, Wakil Sekretaris Jenderal Supreme Commission for Tourism in Saudi Arabia, megaproyek itu bakal mengubah seluruh kawasan seputar Masjidil Haram. ''Kami berharap, ini juga akan mengubah Mekkah secara dramatis,'' kata Fahas.
Dramatis, karena pembersihan kawasan sekitar Masjidil Haram tak segan meruntuhkan bangunan megah hotel bintang lima dan empat sekalipun. Mulai Hotel Sheraton, Hotel Sofitel, Hotel Qurtuba, Hotel Zahret, Hotel Darkum, Hotel Talal, Hotel Firdaus Umrah, hingga Hotel Firdaus Mekkah, semuanya akan diratakan dengan tanah. Hotel-hotel ini, bersama bangunan perumahan lainnya, masuk areal seluas 587.250 meter persegi di seluruh Mekkah yang harus ditata ulang.
Jika ditotal, renovasi Masjidil Haram dan kota Mekkah dijalankan lewat 973 proyek baru. Terbagi menjadi beberapa wilayah, seperti 85 proyek di wilayah Syamiyah yang terletak di sisi barat laut hingga utara Masjidil Haram. Kawasan ini akan dipenuhi hotel bintang lima, pertokoan, pusat perbelanjaan, dan restoran.
Di sisi barat Masjidil Haram yang meliputi kawasan Jabal Umar dan Jabal Ka'bah dibangun hal serupa. Plus stasiun kereta api induk, areal parkir yang mampu memuat 12.000 mobil, pasar, dan fasilitas umum lainnya. Sebuah terowongan sepanjang 1.000 meter akan dibangun menembus Jabal Umar dan menyambung ke Jalan Ummul Qura.
Di sisi tenggara dan selatan, yang mencakup kawasan Jabal Khandama, dibangun hunian untuk menampung 240.000 orang. Salah satu proyek terbesar di kawasan ini adalah Abraj al-Bait. Proyek pembangunan tujuh menara pencakar langit ini selesai tahun depan dan sanggup menampung 65.000 orang. Di kawasan ini juga dibuat jalur pejalan kaki menuju Masjidil Haram, yang terhubung dengan dua jalan utama.
Meski perombakan besar-besaran kali ini diiringi dengan pembangunan fasilitas angkutan massal dan pelayanan publik lainnya, bagi sebagian ahli sejarah dan tata kota, perubahannya terlalu besar. Salah satu pihak yang keberatan adalah Sami Angawi, arsitek dan pendiri Centre for the Custodian of the two Holy Mosques Institute for Hajj Research. Sami menilai, mereka tengah menyaksikan detik-detik terakhir Mekkah tampak seperti pada saat diciptakan Tuhan dengan lanskap dan gunung-gunungnya.
Pemerintah Saudi ingin meratakan gunung-gunung di Mekkah supaya lebih banyak lahan datar. ''Mestinya lanskap kota Mekkah tradisional tetap dipertahankan. Jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin orang dan seberapa banyak uang yang bisa diperoleh,'' ujar Sami.
Beberapa pihak lain menyayangkan pembangunan gedung pencakar langit di sekitar Masjidil Haram itu. Sebab gedung pencakar langit itu akan menutupi pandangan dari Ka'bah dan landmark di sekelilingnya. Kondisi ini akan menghilangkan keseimbangan letak Masjidil Haram, yang secara filosofis dipandang sebagai contoh pusat keseimbangan dunia. ''Alasan mereka bisa dipahami. Tapi, di sisi lain, kita butuh tempat untuk menampung jamaah,'' kata Lahem al-Nasser, seorang ahli perbankan Islam yang mendukung megaproyek perluasan Masjidil Haram itu.
Megaproyek ini juga memicu kenaikan harga properti di Mekkah. Kini harga tanah mencapai 250.000 riyal (Rp 625 juta) per meter persegi di kawasan sekitar Masjidil Haram. Nyaris dua kali lipat dari harga tanah di Monako, negara yang selama ini memiliki kawasan real estate paling mahal menurut data Global Property Guide. "Malah para pengembang mengira, harga tanah akan naik empat kali lipat hingga 1 juta riyal (Rp 2,5 milyar) per meter,'' ujar Imad Awad. Harga tanah yang paling mahal ini terletak di area yang bisa melihat langsung pemandangan Ka'bah.
Kisah Imam Orang Miskin
Kisah Imam Orang Miskin
(KH Jalaluddin Rakhmat)
“Hai Ali,” kata Nabi saw kepada salah seorang sahabatnya yang sangat dikasihinya, “orang miskin bangga mempunyai Imam seperti kamu, dan kamu pun bangga menjadi Imam mereka.” Kelak Ali menjadi khalifah Islam yang keempat, menggantikan Utsman.
Ia membuat kebijakan-kebijakan yang membela orang miskin dan memotong tangan-tangan para kapitalis yang menindas. Waktu itu, kapitalis disebut sebagai saudagar.
Ingin tahu bagaimana khalifah yang adil itu dalam kehidupan sehari-harinya? Simak laporan seorang anak muda yang hidup pada zamannya dan menjadi ulama besar pada zaman berikutnya. Namanya Syu’bi.
“Pada suatu hari aku melewati Baitul Mal (Kantor Pusat Bulog). Imam Ali tengah mengawasi distribusi kekayaan negara. Aku melihat para budak hitam dalam satu barisan bersama para saudagar. Mereka mendapatkan bagian yang sama. Dalam waktu sekejap, tumpukan mata uang emas dan perak habis terbagi. Khazanah negara pun kosong. Imam Ali berdoa dan meninggalkan kantor itu dengan tangan hampa. Ia telah memberikan bagiannya kepada seorang perempuan tua yang mengadu karena bagiannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.”
Jangan pikir bahwa karena Syu’bi mengatakan bahwa para saudagar dan budak mendapatkan bagian yang sama, Anda kira Imam tidak adil. Para saudagar itu mendapat jatah yang sama setelah sebagian harta mereka diambil oleh negara. Karena itu, para saudagar membentuk persekongkolan rahasia untuk menjatuhkan Ali. Bersama para pemimpin kabilah, mereka menjauh dari Ali.
Utsman bin Hanif, salah seorang sahabat dekatnya, memberikan nasehat kepada Khalifah: “Anda telah berhasil melaksanakan tugas-tugas Anda, mulai dari mekanisme distribusi keuangan publik secara adil, menyama-ratakan bagian bagi para pejabat pemerintah dan rakyat jelata, mengangkat status orang hitam dan Persia sehingga setingkat dengan orang Arab, memberikan bagian sama besar antara budak dengan tuannya, menghapuskan hak-hak istimewa bagi para pejabat pemerintah, dan terakhir menghapus pemberian fasilitas dan tunjangan khusus bagi pejabat. Semuanya itu telah mendatangkan kerugian bagi Anda.
Lihatlah, inilah yang menjadi sebab menjauhnya para tokoh dan sudagar Arab dari Anda. Mereka memilih untuk mendekati Muawiyah. Apa gunanya orang-orang miskin, orang-orang cacat, janda-janda tua, dan budak-budak hitam itu bagi Anda? Apakah mereka mampu membela dan melayani Anda?”
Mungkin di zaman sekarang ini, Utsman bin Hanif boleh kita sebut sebagai penasehat khusus Presiden. Dengarkan jawab Sang Khalifah: “Tidak akan aku biarkan para tokoh yang berpengaruh dan saudagar kaya raya mengeksploitasi umat Islam. Aku sangat membenci sistem distribusi uang negara yang tidak adil. Aku tidak akan pernah membiarkan hal seperti ini. Kekayaan ini milik rakyat, berasal dari rakyat, dan diperuntukkan bagi rakyat. Bukan para saudagar dan tokoh yang membuat kekayaan ini. Mereka hanya menjarahnya dari rakyat, mengkorupsi uang pajak dan lain-lainnya. Jumlah pajak yang mereka korupsi jauh lebih banyak daripada yang mereka kembalikan kepada negara. Mereka menyelewengkan dana pajak itu untuk kepentingan pribadi mereka. Perilaku mereka yang korup dan suka menyelewengkan keuangan negara itulah yang menjadi keprihatinanku selama ini. Aku malah gembira jika mereka menjauhiku. Aku tidak mengharapkan pengabdian orang-orang cacat dan orang-orang miskin. Aku mengerti sepenuhnya mereka tidak mampu mengabdi kepadaku. Ketahuilah, aku hanya ingin menolong mereka, karena mereka tidak mampu menolong diri mereka sendiri. Mereka juga manusia sama seperti kamu dan aku. Semoga Allah memberikan kekuatan bagiku untuk menjalankan semua tugas ini.” (Dikutip dengan beberapa perubahan redaksional dari Gold Profile of Imam Ali).
Tuhan memang menganugrahkan kekuatan dan ketabahan pada Imam Ali. Ia bangga memihak rakyat miskin. Ia tidak peduli pada “politicking” yang dilakukan orang-orang kaya. Keadilan harus ditegakkan walaupun langit harus runtuh. Keadilan harus menjadi sistem pemerintahannya, walaupun ia akhirnya terbunuh. Sebagaimana Rasulullah, kaum muslim menyebutnya Imamul Masâkin. George Jordac, penulis dari kaum Kristiani, menyebutnya Shawtul ‘Adâlatil Insâniyyah, suara keadilan insani.
Ada orang yang mengkritik Ali sebagai politisi yang gagal. Musuh-musuhnya bertambah. Kawan-kawannya mengkhianatinya. Ia gagal mempertahankan kekuasaannya. Missi Ali bukan untuk merebut dan menegakkan kekuasaan. Tidak ada satu pun ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk merebut kekuasaan.
Al-Quran berpesan, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan, sebagai saksi-saksi untuk Tuhan, walaupun bertentangan dengan kepentingan dirimu, atau orang tuamu, atau karib kerabatmu. Dan jika ia pun kaya ataupun miskin; karena Allah lebih baik dalam melindungi mereka. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil.” (AQ 4:135).
Khalifah Ali kita tampilkan untuk mengingatkan para pemimpin dan pejabat di negeri ini yang berlomba untuk menerbitkan kebijakan yang memotong urat nadi nafkah orang banyak; buat para saudagar yang bekerja sama dengan para pejabat untuk mengeruk keuntungan dari keringat dan darah rakyat kecil; buat para pembuat hukum yang membuat peraturan yang melarang orang berderma atau berdagang di pinggir jalan; juga buat para hakim yang mengusulkan fasilitas dan tunjangan tambahan puluhan bahkan ratusan juta. Duhai, jika sekiranya Ali atau orang seperti Ali menjadi pemimpin negeri ini!
(KH Jalaluddin Rakhmat)
“Hai Ali,” kata Nabi saw kepada salah seorang sahabatnya yang sangat dikasihinya, “orang miskin bangga mempunyai Imam seperti kamu, dan kamu pun bangga menjadi Imam mereka.” Kelak Ali menjadi khalifah Islam yang keempat, menggantikan Utsman.
Ia membuat kebijakan-kebijakan yang membela orang miskin dan memotong tangan-tangan para kapitalis yang menindas. Waktu itu, kapitalis disebut sebagai saudagar.
Ingin tahu bagaimana khalifah yang adil itu dalam kehidupan sehari-harinya? Simak laporan seorang anak muda yang hidup pada zamannya dan menjadi ulama besar pada zaman berikutnya. Namanya Syu’bi.
“Pada suatu hari aku melewati Baitul Mal (Kantor Pusat Bulog). Imam Ali tengah mengawasi distribusi kekayaan negara. Aku melihat para budak hitam dalam satu barisan bersama para saudagar. Mereka mendapatkan bagian yang sama. Dalam waktu sekejap, tumpukan mata uang emas dan perak habis terbagi. Khazanah negara pun kosong. Imam Ali berdoa dan meninggalkan kantor itu dengan tangan hampa. Ia telah memberikan bagiannya kepada seorang perempuan tua yang mengadu karena bagiannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.”
Jangan pikir bahwa karena Syu’bi mengatakan bahwa para saudagar dan budak mendapatkan bagian yang sama, Anda kira Imam tidak adil. Para saudagar itu mendapat jatah yang sama setelah sebagian harta mereka diambil oleh negara. Karena itu, para saudagar membentuk persekongkolan rahasia untuk menjatuhkan Ali. Bersama para pemimpin kabilah, mereka menjauh dari Ali.
Utsman bin Hanif, salah seorang sahabat dekatnya, memberikan nasehat kepada Khalifah: “Anda telah berhasil melaksanakan tugas-tugas Anda, mulai dari mekanisme distribusi keuangan publik secara adil, menyama-ratakan bagian bagi para pejabat pemerintah dan rakyat jelata, mengangkat status orang hitam dan Persia sehingga setingkat dengan orang Arab, memberikan bagian sama besar antara budak dengan tuannya, menghapuskan hak-hak istimewa bagi para pejabat pemerintah, dan terakhir menghapus pemberian fasilitas dan tunjangan khusus bagi pejabat. Semuanya itu telah mendatangkan kerugian bagi Anda.
Lihatlah, inilah yang menjadi sebab menjauhnya para tokoh dan sudagar Arab dari Anda. Mereka memilih untuk mendekati Muawiyah. Apa gunanya orang-orang miskin, orang-orang cacat, janda-janda tua, dan budak-budak hitam itu bagi Anda? Apakah mereka mampu membela dan melayani Anda?”
Mungkin di zaman sekarang ini, Utsman bin Hanif boleh kita sebut sebagai penasehat khusus Presiden. Dengarkan jawab Sang Khalifah: “Tidak akan aku biarkan para tokoh yang berpengaruh dan saudagar kaya raya mengeksploitasi umat Islam. Aku sangat membenci sistem distribusi uang negara yang tidak adil. Aku tidak akan pernah membiarkan hal seperti ini. Kekayaan ini milik rakyat, berasal dari rakyat, dan diperuntukkan bagi rakyat. Bukan para saudagar dan tokoh yang membuat kekayaan ini. Mereka hanya menjarahnya dari rakyat, mengkorupsi uang pajak dan lain-lainnya. Jumlah pajak yang mereka korupsi jauh lebih banyak daripada yang mereka kembalikan kepada negara. Mereka menyelewengkan dana pajak itu untuk kepentingan pribadi mereka. Perilaku mereka yang korup dan suka menyelewengkan keuangan negara itulah yang menjadi keprihatinanku selama ini. Aku malah gembira jika mereka menjauhiku. Aku tidak mengharapkan pengabdian orang-orang cacat dan orang-orang miskin. Aku mengerti sepenuhnya mereka tidak mampu mengabdi kepadaku. Ketahuilah, aku hanya ingin menolong mereka, karena mereka tidak mampu menolong diri mereka sendiri. Mereka juga manusia sama seperti kamu dan aku. Semoga Allah memberikan kekuatan bagiku untuk menjalankan semua tugas ini.” (Dikutip dengan beberapa perubahan redaksional dari Gold Profile of Imam Ali).
Tuhan memang menganugrahkan kekuatan dan ketabahan pada Imam Ali. Ia bangga memihak rakyat miskin. Ia tidak peduli pada “politicking” yang dilakukan orang-orang kaya. Keadilan harus ditegakkan walaupun langit harus runtuh. Keadilan harus menjadi sistem pemerintahannya, walaupun ia akhirnya terbunuh. Sebagaimana Rasulullah, kaum muslim menyebutnya Imamul Masâkin. George Jordac, penulis dari kaum Kristiani, menyebutnya Shawtul ‘Adâlatil Insâniyyah, suara keadilan insani.
Ada orang yang mengkritik Ali sebagai politisi yang gagal. Musuh-musuhnya bertambah. Kawan-kawannya mengkhianatinya. Ia gagal mempertahankan kekuasaannya. Missi Ali bukan untuk merebut dan menegakkan kekuasaan. Tidak ada satu pun ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang memerintahkan umat Islam untuk merebut kekuasaan.
Al-Quran berpesan, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan, sebagai saksi-saksi untuk Tuhan, walaupun bertentangan dengan kepentingan dirimu, atau orang tuamu, atau karib kerabatmu. Dan jika ia pun kaya ataupun miskin; karena Allah lebih baik dalam melindungi mereka. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil.” (AQ 4:135).
Khalifah Ali kita tampilkan untuk mengingatkan para pemimpin dan pejabat di negeri ini yang berlomba untuk menerbitkan kebijakan yang memotong urat nadi nafkah orang banyak; buat para saudagar yang bekerja sama dengan para pejabat untuk mengeruk keuntungan dari keringat dan darah rakyat kecil; buat para pembuat hukum yang membuat peraturan yang melarang orang berderma atau berdagang di pinggir jalan; juga buat para hakim yang mengusulkan fasilitas dan tunjangan tambahan puluhan bahkan ratusan juta. Duhai, jika sekiranya Ali atau orang seperti Ali menjadi pemimpin negeri ini!
Langganan:
Postingan (Atom)
